barusan blogwalking

Hai peeps!

Kenal mbak Astri? Sama, aku juga nggak kenal, hehehe /ga.

Mbak Astri adalah orang yang secara acak aku follow di instagram karena feedsnya cakep banget! Lalu barusan, sambil nunggu ponsel ke-charge penuh demi ngerjain tugas transkrip wawancara, akhirnya aku memilih buat ngestalk instagramnya mbak Astri, @atiit. Dan ternyata, beliau punya blog yang lutjhuuu banget, blog idaman aku! Bisa cek http://astripujilestari.com/ ya ceman ceman ❤

Blog-nya mbak Astri menarik karena bahas hal-hal ini: minimalism, zero-waste, declutter, etc.

bisa dibaca disini❤ http://astripujilestari.com/2019/02/10/about-minimalist-declutter-less-waste-and-else/

Sebuah gaya hidup sederhana, yang cukup-cukup saja, agar kita nggak menghasilkan banyak sampah. Sebetulnya, ini gaya hidup yang diajarkan Rasulullah sejak duluuu bahwa kita nggak boleh berlebih-lebihan, dan Mbah aku juga mengajari untuk selalu memakai barang sampai titik darah penghabisan baru boleh dibuang.

Aku selalu kagum sama gaya hidup sehat itu, dari dulu! Cuma sekarang gaya hidup ala wong ndeso itu di-repackaging dengan bahasa Inggris dan akhirnya banyak diterapkan warga kota yang lelah dengan segalanya yang serba fast 😦

Heran ya, orang desa ingin banget ke kota, dengan segala kemajuan dan kemudahannya, sekarang orang kota malah banyak yang hidup ala orang desa. Kalian bisa lihat mbak Liziqi panutannya temanku Dewi di youtube.

Tanam sawi sendiri, tanam bumbu dapur sendiri–sekarang istilahnya home gardening. Rumah yang banyak jendelanya, orang desa rumahnya gini biar nggak gelap, mereka dengan alasan hemat listrik. Rumah yang nggak pakai AC, orang desa memang nggak pakai AC karena duit siapaaa wkwkwk, mereka dengan alasan mengurangi freon penyebab global warming (?) Padahal sebetulnya mampu. Makan eat cleaning, hanya kukusan sederhana, tanpa banyak bumbu, agar sehat. Oalah, orang desa dari dulu cuma makan ubi rebus karena nggak ada uang bawang merah mahal wkwkwkkwkwk 😦 Bawa bekal kemana-mana agar hemat sampah, orang desa agar hemat uang. Beli baju hanya warna primer dan bahan linen dan tidak gonta-ganti, memilih beli di awul-awul, oalah, orang desa beli di pasar kaget ya karena mampunya itu wkwkwk.

Beralih kepada segala yang organik, minyak-minyak atsiri, sabun organik, sampo organik, dan mereka beli itu semua dengan harga yang bisa aku pakai buat beli sepatu bagus! Sementara Simbahku mencuci rambut pakai merang karena ya memang itu yang bisa buat rambut bagus. Mengoles dengan minyak kelapa hasil dan campur-campuran rempah hasil merebus berjam-jam di pawon yang bikin baju bau sangit yang sudah diterapkan orang desa dengan murah meriah dari dulu, sementara mereka beli dengan delapan puluh ribu per dua puluh ml. Mengubur sampah di halaman belakang, oalah, aku menggali lubang dekat pohon pisang di belakang pawon lalu makanan sisa kemarin aku buang kesana semua supaya si pisang dapat pupuk gratis, jadi aku hemat pupuk.

Aku banyak oalah-nya karena aku gumunan. Ternyata hidup jadi orang desa di kota itu pilihan yang biayanya mahal. Sementara orang desa hidup kayak orang desa karena nggak ada pilihan lain dan agar hemat duit. Beda, ya, orientasi karena pilihan dengan karena nasib, wkwkwk.

Jadi semakin merasa, kok aku hidup di kota, tapi orang-orang kota sekarang ada yang menerapkan hidup seperti orang desa yang sederhana dan kebetulan timelineku isinya postingan mereka, hahaha.

Lifestyle orang sekarang (yang aku follow instagramnya) sungguh menyenangkan, tapi sungguh boros juga kalau semua kamu beli dari toko-toko greenshop. Orang-orang suka miskonsepsi, berpikir kalau untuk hidup minimalis dan bebas-sampah itu kamu harus pakai semua barang-barang dari toko organik itu, padahal kan maksud kampanyenya enggak begitu. Kalau kamu beli barang baru lalu barang lama kamu buang, darimana konsep less waste itu kamu dapat sodara-sodaraaaa, ya sami mawon. Kamu beli reusable bag dari linen padahal di rumahmu ada tempat belanja anyaman rafia yang biasa buat ke pasar, ya namanya juga pemborosaaan.

Buatku, minimalis itu ya kamu merasa cukup sama barang yang kamu punya sehingga enggak usah beli-beli. Biasanya cowok sih emang begini, kan. Tapi buat cewek kayak aku, butuh latihan! Yang sedikit-sedikit beli karena alasan lucu. Apalagi kalau ke Miniso, rasanya pengen borong semuaaaa wkwwk. Nah, prinsip pemborosan itu yang nggak dianjurkan dalam gaya hidup minimalis.

♡ Mbak Atit hidup sama suaminya di rumah yang simpel dan nggak begitu banyak barang. Lalu aku melihat ke kamarku, ke lemariku… ._. Rasanya ingin menerapkan konsep minimalis ini secepat-cepatnya tapi, kok, kurang cocok kalau masih jadi mahasiswa dan masih numpang sama uang ibunda. Jadi barang-barang yang dikasih ibunda akan aku terima dengan senang hati walaupun aku akan jarang pakai.

Membandingkan lemariku yang penuh dengan lemari-lemari orang minimalis, aku jadi mikir lagi. Yang aku pakai, ya, itu lagi itu lagi. Tunik kotak-kotak, tunik biru, kemeja hitam, tunik hijau army. Gamis biru dongker. Repeat 3748392 kali. Kerudung juga, pink yang itu, cokelat muda yang itu, hitam. Sementara aku punya seabrek kerudung lain yang jarang dipakai. Rok juga cuma rok hitam dan cokelat muda yang itu. Lha, bajuku satu lemari tapi yang dipakai itu-itu terus… kayaknya bisa nih, aku menerapkan minimalisme ini hwahahaha. Mungkin nanti kalau sudah pindah kos-kosan, barang-barang ini aku hibahkan ke orang-orang yang membutuhkan atau menginginkan, semoga berguna.

♡ Terus juga, mbak Atit ini kalau makan seringnya sederhana banget. Dikukus, jarang pakai bumbu. Banyak buah-buahannya. Tapi Shalvi mau nerapin itu sekarang, ya, apa daya hidupku yang bergantung sama dapur kontrakan /crying/

Dan bisa apa aku yang masih suka banget sama masakan-masakan Indonesia yang banyak banget bumbunya, hahaha. Barusan aja aku makan telur dadar kuah padang. Ya Allah enak.

Ya, aku juga kepengen eat cleaning, tapi nanti kalau udah punya pemasukan sendiri, ga usah dipaksa wkwk. Biar aku bisa kenyang makan buah naga tok buat sarapan! (*´﹃`) Tapi bisa nggak, ya, makan dengan hambar begituuuu :C Ah, buat eat cleaning nanti-nanti aja dulu, deh. Masih suka makan gorengan. Eat cleaning versiku mending puasa aja kali ya, udah mah pro mahasiswa dan betul-betul cleaning pencernaan, hahaha.

♡ EH TAPI KALAU HIDUP SEMI-VEGETARIAN aku udah ngalamin! Semata-mata karena uang belanja kami cekak dan ga cukup buat beli daging-dagingan, hahaha. Urusan makan daging, kami jarang banget kecuali seminggu sekali atau sedang ada acara. Pas, lah, mendukung kampanye no meat.

♡ Soal zero waste, aku senang karena sedikit banyak sudah bisa menerapkan.

Hidup di kontrakan yang belanjanya satu kali sehari meminimalisir sampah, lho! Karena kita belanjanya sekalian, jadi nggak banyak makan kresek. Kresek-kresek yang dominannya berukuran besar juga bisa dipakai jadi plastik sampah yang besoknya bakal nangkring di gerobak bapak sampah tiap subuh (nuhun Pak!)

Banyak yang siap sedia marah-marah cantik untuk mengingatkan lampu belum dimatikan, setrika belum dicabut, kipas angin masih nyala.

♡ Masalah home gardening juga, Dewi dan Atus dan Laila sudah suka menanam-nanam dan memelihara sayur-sayur yang ada. Kemarin sore aku lihat pada berulat, kata Dewi, “Gakpapa, tandanya kebun kita seratus persen organik.” Mantap.

♡ ♡ Terus jugaa.. upaya minimalis minimalis ini selain buat barang-barang fisik, juga berlaku buat jiwa dan pikiran, looh. Gitu kata mbak Atit. Makanya aku tertarik buat menerapkan hidup sederhana ini, selain ramah di kantong mahasiswa juga agar pikiranku yang setahun belakangan penuuuh banget, bisa berkurang isinya. 😀

.

❤ Aku banyak belajar dari blog-nya juga yang enak dipandang karena banyak gambarnya! Selama ini blog ini isinya tulisan semata-mata karena aku belum punya ponsel dengan kamera beresolusi cukup. Nanti mungkin ketika sudah ada, aku bisa merombak postingan blogku menjadi lebih berwirni-wirniii!

❤ Terus juga rumahnya Mbak Atit itu minimalis pisan. Seperti yang udah aku singgung di atas, selain sulit jadi minimalist ketika masih mahasiswa, juga sebenarnya, aku cenderung maximalist. Iya, less is more, tapi less is bore 3: Terlalu simpel kadang bosan, hahaha, jadi mungkin nanti rumahku nggak ramai-ramai banget tapi nggak sepi juga. Ehehe.

Ga sabar mendesain rumah sendiri! (cita-cita sejak SD btw, sejak aku sering baca majalah Idea).

.

Malam ini aku berterimakasih banget sama mbak Atit karena telah membagi pengalaman hidupnya yang menginspirasi! Juga karena ini –> https://nebulanian.wordpress.com/2020/01/07/harap-membaca-ini-kalau-kamu-mulai-merasa-rungsing-shalvia/ dan karena mbak Atit gemaaash banget sama suaminya, aku juga mau punya suami yang dukung semua keinginanku, wkwkekwwk /yaampon shalvia./

Tapi balik lagi, aku yang ingin punya gaya hidup blablabla tadi juga sadar kalau sekarang bukan saat yang tepat buat eksekusi. Keterbatasan pilihan, waktu dan materi, membuat upaya-upaya yang kamu bisa lakukan sekarang ini Shalvia, walaupun sedikit, tapi gak apa-apaa. Semoga dari yang sedikit itu bisa jadi kebiasaan dan menular sampai ke tahun-tahun berikutnyaa. ❤

Kata Mbak Atit, “Setiap orang punya role dan joy of living-nya masing-masing.”

.

Sekian ngoceh saya malam ini, senang sekali karena telah menumpahkan isi kepala.

Salam sayang,

Shalvi ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s